Hingga saat ini, Umat Islam masih menghadapi tantangan serius baik internal maupun eksternal. Secara internal, umat Islam masih berada dalam keterbelakangan pendidikan, ekonomi, dan politik. Tidak hanya itu, perkembangan akhir-akhir ini di dunia Islam juga menunjukkan gejala yang semakin mengkhawatirkan. Konflik yang tak kunjung reda, bahkan semakin meningkat, di beberapa negara berpenduduk Muslim semakin menunjukkan bahwa Umat Islam sedang menghadapi persoalan internal yang sangat serius. Kecenderungan pemahaman yang semakin mengarah pada pandangan-pandangan ekstrem juga menambah keprihatinan akan perkembangan Umat Islam dewasa ini.

Di antara persoalan serius dewasa ini di kalangan umat Islam adalah fenomena pengafiran sesama muslim (takfir) yang berpotensi merusak persaudaraan sesama. Nalar takfir adalah cara berpikir lama yang akhir-akhir ini muncul kembali di tengah-tengah kita dengan wajah baru. Fenomena kemunculan kembali nalar takfir ini di antaranya disebabkan oleh semakin menguatnya dominasi pemikiran salafi-jihadi yang cenderung kaku, anti-dialog, alergi pada hal-hal yang baru, diskriminatif terhadap perempuan, serta suka memilah-milah masyarakat menjadi masyarakat mukmin dan masyarakat kafir.

Tidak hanya itu, muatan nalar takfir dalam pemikiran generasi baru kelompok jihadi ini juga semakin meluas, sehingga mereka menganggap negara dan sistem kenegaraan yang berlaku saat ini adalah sistem kafir. Demikian pula seluruh lembaga-lembaga negara dan pemerintahan juga kafir. Polisi dan tentara adalah abdi negara yang juga kafir dan wajib diperangi. Karena pandangan itulah, maka tidak heran jika kemudian sasaran serangan mereka adalah institusi-institusi keamanan dan fasilitas-fasilitas penting negara.  

Oleh sebab itu, penting untuk melihat karakteristik nalar takfir generasi baru yang akhir-akhir ini semakin berkembang, khususnya di beberapa kawasan di sekitar dunia Islam, berikut dasar pemikiran dan metodenya, hingga akibat-akibat yang ditimbulkannya sebagaimana telah kita saksikan dalam kehidupan kita selama ini.

Selain takfir, fenomena maraknya fatwa keagamaan yang berasal dari orang-orang yang tidak dikenal kepakarannya dalam bidang hukum Islam juga menambah kerumitan masyarakat Muslim akhir-akhir ini. Secara khusus, kemajuan teknologi digital kini mencapai titik yang luar biasa. Media dakwah agama pun belakangan ini juga sudah mulai memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena tidak semua konten-konten keagamaan yang beredar di dunia digital tersebut selaras dengan Islam yang benar. Bahkan tidak jarang, bermunculan fatwa-fatwa yang bukan hanya tidak selaras dengan ajaran Islam yang penuh rahmat, tapi juga tidak jelas sumbernya, dan kalaupun jelas sumbernya, tidak dapat dijamin validitas maupun kualitas dan integritas orang yang memfatwakannya.

Munculnya fatwa-fatwa yang tidak bertanggung jawab ini juga tak jarang berakibat pada munculnya keresahan di tengah masyarakat. Masyarakat yang dulunya harmonis, hidup rukun, saling menghargai dan menghormati, akhirnya saling curiga, saling menghujat, dan menjauhi satu sama lain akibat fatwa-fatwa “liar” yang berisi ujaran kebencian, menganggap orang lain pelaku bid’ah, munafik, dan sebagainya. Fatwa-fatwa tersebut  disebarkan melalui media sosial dan sebagainya tanpa memperhatikan atau pun mempertimbangkan kondisi sosial-politik dan keagamaan yang berkembang di masyarakat. 

Pada saat yang sama, secara eksternal, banyak pihak yang salah paham terhadap Islam, disebabkan tindakan sebagian umat Islam yang keliru memahami beberapa aspek ajaran Islam, di samping minimnya pemahaman pihak lain tersebut terhadap substansi ajaran Islam. Beberapa tuduhan juga muncul dari kalangan non-Islam dan di luar dunia Islam bahwa Islam mendorong terorisme, memapankan keterbelakangan, anti kemajuan, menzalimi wanita, dan sebagainya. Tuduhan-tuduhan semacam inilah yang memunculkan fenomena “Islamophobia” utamanya di dunia Barat. Fenomena fobia-Islam ini dalam beberapa hal dipicu kesalahpahaman pihak lain dalam memahami Islam, di samping akibat pemahaman yang keliru terhadap ajaran Islam dari sebagian kaum Muslim sehingga memunculkan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran luhur Islam.

Karena itu, diperlukan upaya yang lebih signifikan, konkret, dan masif untuk mengetengahkan Islam yang benar dan moderat sesuai dengan metode yang dikembangkan Al-Azhar dalam memahami sumber-sumber ajaran Islam.

Toleransi dan moderasi adalah nilai inti dan dasar dari ajaran Islam. Nilai ini perlu dikembangkan untuk mengatasi beberapa persoalan umat, seperti gejala radikalisme keagamaan, takfir, ekstrimisme, dan sebagainya. Hanya dengan mengedepankan toleransi dan moderasi Islam ini, perdamaian dunia akan tercapai.

Salah satu lembaga Islam yang secara konsisten menyuarakan dan menyebarkan moderasi Islam adalah Al-Azhar as-Syarif. Al-Azhar adalah lembaga pendidikan dan dakwah Islam yang memiliki peran penting dalam mengembangkan risalah Islam selama lebih dari seribu tahun. Peran penting tersebut masih terus berlangsung hingga saat ini, tidak hanya di Mesir dan Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia. Melalui metode pengajaran, kurikulum, para delegasi da’i, dan para alumninya yang tersebar di seluruh dunia, Al-Azhar selalu lantang menyuarakan ajaran yang benar, toleran dan moderat. Peran Al-Azhar ini telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun dan semakin tampak dalam perkembangan-perkembangan terakhir, khususnya di Timur Tengah, dan umumnya dunia Islam.

Moderasi Islam yang dikembangkan Al-Azhar disebarkan melalui jaringan-jaringan yang dibangun Al-Azhar, baik melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga negara dan keagamaan di seluruh negara di dunia, maupun melalui pengiriman delegasi-delegasi da’I, imam, pembimbing, guru dan dosennya ke seluruh dunia.

Jaringan lain yang juga menjadi kanal penyebaran moderasi Islam adalah jaringan alumni al-Azhar di seluruh dunia. Seluruh alumni al-Azhar tersebut dihimpun dalam sebuah lembaga Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional yang berpusat di Cairo dan dipimpin langsung oleh Grand Syaikh Al-Azhar, Dr. Ahmed al-Thayyib. Ikatan alumni tersebut telah berkembang menjadi organisasi internasional dan memiliki cabang-cabang di banyak negara di dunia.

Salah satu cabang ikatan alumni tersebut adalah Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional cabang Indonesia. Sejak diresmikan pada 02 Mei 2010, Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional cabang Indonesia telah melakukan banyak kegiatan dalam rangka menyebarkan Islam yang toleran dan moderat sesuai dengan visi dan misi Al-Azhar as-Syarif.

Dalam posisinya yang strategis inilah, alumni Al-Azhar di Indonesia perlu senantiasa berkoordinasi, berkonsolidasi dan bersinergi untuk berkontribusi dalam memberikan solusi atas persoalan-persoalan yang menjadi keprihatinan Umat Islam dewasa ini. Dalam rangka inilah Konferensi Internasional dan Konsolidasi Nasional Organisasi Alumni Al-Azhar Internasional (OAAI) Cabang Indonesia ini dilaksanakan.

Go to top